anya:

Apakah tasawuf itu?

 

Jawab:

Kata tasawuf berasal dari bahasa Arab ‘shafaa’ yang berarti bersih, suci. Jadi, tashawwuf berarti melakukan pembersihan atau penyucian. Artinya, orang yang bertasawuf adalah orang menjaga kebersihan dan kesucian hati atau jiwanya.

 

Tanya:

Apa yang dimaksud dengan membersihkan atau menyucikan hati atau jiwa?

 

Tuhan merupakan kata yang mewakili kekuasaan yang Maha tak terbatas, tidak satupun kekuatan dan kekuasaan yang diluar kendali-Nya. Ketika kita telah menyatakan tiada Tuhan selain Allah, maka Allah telah menjadi Nama yang kita yakini sebagai satu-satunya Tuhan di dunia, selain-Nya adalah abdi atau hamba.

Saudaraku, sejauh manakah kita dapat menjadikan kata, “Allah,” tersebut mewakili rasa dan perasaan akan kenyataan ke-Tuhanan-Nya. Tidak jarang diantara kita yang menyebut ,”Allah,” sekedar sebatas nama, tanpa merasakan apapun di balik nama tersebut. Padahal amat penting bagi kita untuk memahami Kebesaran dan Keagungan Allah SWT dalam setiap penyebutan-Nya.

Seseorang yang menyebut SBY saja, maka akan terbayang bagi dia segala pangkat dan jabatannya sebagai preesiden Republik ini. Sungguh kerdil diri kita, yang menyebut , “Allah SWT,” tanpa sedikitpun bergetar hati dengan rasa akan segala unlimited power-Nya. Nama bukan saja mewakili identitas diri, tapi juga mewakili sebuah kepemilikan dan kekuasaan atas sesuatu yang dimiliki dari sesosok  yang bernama tersebut.

Saudaraku, ketika pedang Datsur menempel dileher Baginda Rasulullah SAW, beliau ditanya, “ Siapakah yang sanggup dihari ini menolong engkau ya Muhammad..,” Baginda dengan tegas menjawab , “Allah…!,”. Pedang terjatuh, kedua  kaki dan hatinya Datsur tersungkur dalam kalimah Syahadat. Inilah gambaran yang luar biasa dari implementasi rasa hati Baginda Rasulullah SAW terhadap kebesaran dan keagungan Tuhan dalam nama, “Allah,”.

Saudaraku, diantara kita masih banyak yang,” membatasi,” kekuasaan Allah SWT dalam caranya berfikir  terhadap penafsiran makna ke-Tuhanan. Kita merasa cukup puas dengan menyebut nama tanpa memahami sepenuhnya kebesaran nama tersebut. Kenyataannya, hari ini tak terhitung umat yang haus akan pengetahuan tentang tuhan dan berlomba-lomba mencari jalan yang terdekat untuk sampai kepada Allah SWT. Bahkan yang paling menyedihkan kehausan mereka akan Allah SWT dimanfaatkan oleh segelintir orang-orang serakah yang berkedok  agama.

Saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu, “ Allah…,” dengan mata hati yang terbuka merasakan kenyataan Allah SWT melebihi dari kenyataan apapun termasuk dirimu, dan rasakanlah ke-Maha-an-Nya didalam segala sesuatu, dengan menghidupkan rasa kehambaan penuh kebudakkan dihadapan Allah SWT. Serta mendominasikan ketidak berdayaan diri di setiap kata dan perbuatan didepan ketentuan-Nya. Jadikanlah hatimu tempat lewat pendengaran dan penglihatan, bahkan kata-katamu sendiri harus melewati hati sebelum ia keluar dari mulutmu.

Akhirnya, sebutlah , “Ya…Allah, Ya ….Rabbi, cukuplah Engkau Bagiku, hanya Engkau jaminan Hidupku dan biarkanlah aku meneguk pengetahuan akan kebesaran serta kenyataan-Mu melebihi dari segala pemahaman atas diriku sendiri. Dan ajarkanlah aku menyebut nama-Mu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki atasnya, dan larutkanlah pemahaman ke-Tuhananmu atas diriku didalam setiap namaMu yang kusebut….. Allah.

 

Tuangku Syaikh Maulana Muhammad Ali Hanafiah

BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM……, Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kalimat ini sering kita ucapkan, paling tidak sebelum makan dan minum. Terlepas apakah itu sekedar kebiasaan ataupun memang hanya sebagai penambah nikmat untuk makan dan minum, kita adalah makhluk yang selalu lupa untuk menyadari kebersamaan denganNya. Dan kita telah mengetahui, basmalah adalah kalimat yang mesti kita ucapkan dalam setiap tindakan dan perbuatan. Namun hingga hari ini, sejauh mana hati kita menyertakan Allah SWT dalam penyebutan kalimat tersebut, apakah hanya sebatas” Garis Start” untuk memulai segala tindakan? Atau menjadikan kalimat basmalah sebagai kalimat” Sakti” untuk mendongkrak sugesti dan keyakinan dalam berbuat dan memutuskan?

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani adalah salah satu ulama nusantara yang kembali memurnikan dan mengangkat nilai-nilai Tauhid pada ajaran-ajaran Tasawuf di Indonesia. Tuangku Hanafiah berupaya untuk memperkenalkan kembali ajaran Tasawuf murni yang terlepas dari pengaruh klenik serta ajaran-ajaran yang menyimpang dari nilai ke Tuhanan. Beliau sangat menyadari betapa banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan daripada ajaran Tasawuf  dan banyak juga diantaranya yang bukan ajaran Tasawuf malah mengatas namakan dirinya kelompok Tasawuf.

Khususnya di Indonesia keprihatinan Tuangku semakin mendalam melihat praktek-praktek Tasawuf  yang seharusnya lebih mendekatkan hamba kepada Allah SWT, malah hanyut dengan ritual-ritual yang bukan lahir dari ajaran Tasawuf, semakin membuat hamba jauh dari nilai-nilai keTuhanan sendiri, bagi Tuangku Hanafiah, Tasawuf  merupakan “ruh” Islam yang semestinya dipelihara kemurniannya, bahkan dengan “ruh” inilah Islam menjadi Rahmat bagi seluruh alam.